SAMPIT – Kesadaran masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terhadap kelestarian satwa liar terus meningkat. Hal ini dibuktikan dengan aksi sukarela seorang warga Kelurahan Baamang Tengah yang menyerahkan hewan peliharaannya berupa satu ekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) kepada petugas pemadam kebakaran, Minggu (22/2/2026).
Penyerahan ini bermula ketika pemilik satwa, Ibu Megawati, datang langsung ke Markas Komando (Mako) Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kotim pada pukul 09.13 WIB. Ia bermaksud menyerahkan monyet milik pribadinya tersebut agar dapat dikembalikan ke habitat aslinya melalui petugas.
Proses Penjemputan Satwa
Merespons laporan tersebut, Kepala Peleton III, Supriansyah, menugaskan Regu III untuk melakukan proses penanganan dan penjemputan. Tim yang dipimpin oleh Kepala Regu Sukmana Saleh bergerak menuju lokasi di Jalan KH. Dewantara No. 86 menggunakan unit Hilux Rescue pada pukul 09.51 WIB.
Hanya dalam waktu tujuh menit, petugas tiba di lokasi yang berjarak sekitar 1,6 km dari Mako. Setibanya di sana, petugas mendapati primata tersebut sudah berada di dalam kandang, siap untuk dievakuasi.
“Pelapor menyerahkan monyet tersebut secara sukarela kepada petugas dengan harapan hewan tersebut dapat dilepasliarkan kembali ke alam bebas,” ungkap pihak Peleton III dalam laporan resminya.
Evakuasi Singkat dan Lancar
Proses operasional penanganan berlangsung sangat singkat, yakni hanya sekitar empat menit dari pukul 09.59 WIB hingga dinyatakan selesai pada pukul 10.03 WIB. Petugas memastikan kondisi satwa dalam keadaan sehat sebelum dibawa ke markas.
Seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dengan dukungan cuaca cerah dan komunikasi yang baik antara pemilik satwa dengan personel di lapangan. Setelah proses serah terima selesai, tim segera kembali ke Mako Damkarmat Kotim untuk melanjutkan tugas piket.
Imbauan Damkarmat
Aksi Ibu Megawati ini mendapat apresiasi dari pihak Damkarmat Kotim. Langkah menyerahkan satwa liar ke pihak berwenang adalah tindakan yang tepat untuk mencegah potensi konflik antara manusia dan hewan, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem melalui proses pelepasliaran yang sesuai prosedur.








Tinggalkan Balasan